PENDAFTARAN PONDOK PESANTREN MODERN GONTOR


PENDAFTARAN KE PONDOK PESANTREN MODERN DARUSSALAM GONTOR

Banyak pengunjung laman saya ini menanyakan tentang pendaftaran dan biaya sekolah di PPMD Gontor. Saya membalasnya sebagian dengan email pribadi atau langsung di komentar berdasarkan data yang pernah saya unduh dari laman resmi PPMD Gontor, yaitu http://gontor.ac.id/pendaftaran. Informasi yang tersedia di sini bukan informasi yang resmi, karena saya bukan pengasuh pondok tersebut. Informasi yang disajikan di sini hanya dapat digunakan sebagai gambaran awal (kasar) tentang kebutuhan pendaftaran ke PPMD Gontor, sekedar untuk membantu perencanaan para calon walisantri.
Pendaftaran ke Gontor ada 2 macam: pendaftaran calon santri dan pendaftaran santri (calon santri yang sudah lulus ujian seleksi). Pendaftaran calon santri dibuka sepanjang tahun, sedangkan pendaftaran santri dibuka di bulan Syawal. Biaya pendaftaran calon santri tergantung pada berapa lama santri tinggal di pondok mengikuti kegiatan persiapan ujian. Jika pendaftaran dilakukan sebulan sebelum ujian, biayanya sekitar 4,55 juta rupiah ditambah dengan uang bulanan (SPP, kamar, makan) 550 ribu rupiah.
Ujian seleksi masuk pondok Gontor biasanya dilakukan 2 kali, bulan Sya’ban dan Syawal. Pada tahun 2013 dan 2014, ujian seleksi insya Allah akan dilaksanakan hanya sekali di bulan Syawal saja (3-14 Syawal). Hal ini disebabkan kalender pendidikan Gontor yang biasanya lebih lambat daripada kalender pendidikan nasional, pada tahun ini kedua kalender tersebut berjalan hampir bersamaan. Agar para calon santri/wati mempunyai waktu untuk mengikuti kegiatan bimbingan persiapan ujian masuk (seleksi), maka ujian seleksi bulan Sya’ban rencananya akan ditiadakan. Calon santri harus sudah masuk ke pondok sebelum ujian seleksi dilaksanakan.
Bimbingan persiapan ujian seleksi dimulai pada saat calon santri mendaftarkan diri. Semakin cepat calon santri mendaftarkan diri, semakin lama dia dapat mengikuti bimbingan persiapan ujian yang dilaksanakan di pondok Gontor 2 atau Gontor Putri 2. Pendaftaran calon santri tidak membutuhkan ijasah, sedangkan pendaftaran santri (yang lulus ujian seleksi) membutuhkan ijasah dan tanda lulus ujian seleksi. Masing-masing pendaftaran tersebut membutuhkan biaya yang terpisah.
Informasi tentang pengalaman pendaftaran calon santri ke Gontor, silahkan baca tulisan Pak Mohwan di blog ini berjudul “PENGALAMAN MENDAFTARKAN ANAK SEBAGAI CALON SANTRI DI PONDOK GONTOR 2″. Pak Mohwan adalah calon walisantri yang mendaftarkan anaknya di bulan Mei 2013.

Mataram, 8 Juli 2014
Wassalam,
Imam Bachtiar
(more…)

Pengalaman Bule Muallaf di Indonesia: Untuk Kita Renungkan


Tulisan Gene Netto

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kemarin saya diminta bertemu dengan orang Eropa yang masuk Islam dan menetap di sini bersama isterinya (orang Indonesia) selama beberapa tahun. Pada awalnya, dia mulai belajar tentang Islam karena berniat menikah, tapi setelah memahami dasar2 Islam, dia menjadi serius dan rajin shalat. Pada waktu adzan, dia langsung ke masjid karena tidak mau ada shalat yang ditinggalkan atau telat. Sayangnya, setelah menetap di tengah komunitas Muslim selama beberapa tahun, kondisi dia berubah sekali. Dia berhenti shalat, menjadi depresi, dan bahkan siap bunuh diri karena sudah tidak tahan lagi semua stres di dalam kehidupannya. Dari pengalamannya dengan saudara isterinya, tetangga, dan teman bisnis, dia merasa bahwa apa yang “diajarkan oleh Islam” dan apa yang “dilakukan oleh orang Muslim” sangat berbeda.

Pertanyaan dia yang paling utama: “Kalau Islam memang benar, kenapa umat Islam seperti ini?” (more…)

PENGALAMAN MENDAFTARKAN ANAK SEBAGAI CALON SANTRI DI PONDOK GONTOR 2 (Mei 2013)


Oleh Mohwan (walisantri)
mohwan@ymail.com

Assalamu’alaikum wr.wb.
Mohon ijin Pak Ustadz, disini saya hanya sekedar ingin berbagi pengalaman.
Alhamdulillah akhirnya tgl 19 Mei 2013 kemarin saya telah mendaftarkan anak saya ke Pondok Gontor 2 (Putra). Saya ingin berbagi pengalaman terutama mengenai hal-hal yang di forum ini banyak ditanyakan,
1. Kedatangan
Kami datang ke Pondok Gontor 2, disambut oleh santri senior berseragam pramuka di pintu gerbang, meninggalkan kartu identitas lalu diberikan tanda masuk. Kemudian kami diarahkan ke ruang penerimaan tamu. Di ruang penerimaan tamu, kami didata dan jika memerlukan kasur / alas tidur dapat menyewa dengan tarip Rp.5.000 per malam. Ruang tidur wali santri disediakan gratis, yang berupa sebuah ruangan besar untuk puluhan orang. Kantin / tempat makan tersedia dan buka pada jam-jam tertentu, menu makanan cukup beragam, namun tidak ada menu yang mewah. Rata-rata harga nasi bungkus Rp.5000 dan jajanan / gorengan seharga Rp.1000.
2. Waktu pendaftaran
Pendaftaran sudah dibuka sepanjang tahun sampai hari terakhir test seleksi (3-11 syawal). Namun yang perlu diperhatikan, bahwa daya tampung Pondok Gontor 2 sangat terbatas. Informasi yang saya dapat, pondok hanya mampu menampung 3.200 pedaftar (mohon koreksi kalau saya salah, karena informasi ini sy dapat dari ngobrol dg ustadz ditempat, bukan info resmi dari pondok). Ketika angka pendaftar calon santri sudah mencapai angka tersebut maka pendaftaran akan ditutup. Saat mendaftar saya mendapatkan nomor pendaftaran 1.063.
3. Syarat dan Biaya Pendaftaran
Syarat pendaftaran sama persis dengan yang tercantum di website resmi http://gontor.ac.id/about/pendaftaran.
Biaya pendafataran juga sama seperti di website tersebut, yaitu Rp 3.930.000. Namun pengalaman saya, ternyata ada kebutuhan lain seperti peralatan mandi, sepatu, sandal, seragam pramukan, seragam olah raga dll; sehingga saat pendaftaran saya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 4.300.000. Diluar biaya itu kita masih harus menyiapkan pakaian untuk sekolah yaitu celana gelap dan baju polos, perangkat sholat dll.; yang bisa dipersiapkan dari rumah atau semua peralatan dan kebutuhan santri dapat diperoleh dikoperasi pondok.
4. Prosedur pendaftaran
Sebelum mendaftar / mengisi formulir, para calon wali santri dikumpulkan dan diberi pengarahan oleh pimpinan pondok Gontor 2. Pada kesempatan tersebut dijelaskan apa dan bagaimana Pondok Gontor. Tampaknya kegiatan pengenalan pondok ini merupakan kegiatan wajib yang sudah standar di Gontor. Setelah acara tersebut, kami diberi kartu rekomendasi untuk pengambilan formulir.
Dalam satu hari ada 3 sesi/angkatan pendaftaran yaitu jam 8, jam 12 dan jam 8 malam. Kebetulan waktu itu saya sampai di pondok jam 2 siang, sehingga ikut sesi jam 8 malam. Proses pendafataran cukup panjang, mulai pengarahan, pengisian formulir, antri test penempatan calon santri, pembayaran dan pengambilan peralatan hingga selesai masuk kamar sekitar jam 12 malam. Harap dipertimbangkan juga bagi bapak dan ibu yang akan mendaftar terutama yang membawa anak kecil, Supaya dapat diatur agar kalau bisa jangan ikut sesi malam hari karena biasanya anak kita sudah mengantuk sehingga kurang konsen saat ikut seleksi.
5. Tes penempatan kelas calon santri
Selama proses pendaftaran ada tes penempatan kelas bagi calon santri. Materi tes adalah baca tulis arab, hafalan surat2 pendek dan hapalan do’a2. Tes dilakukan di dalam satu ruangan berbarengan 3 calon santi berhadapan dengan 2 ustadz penguji.
Tes ini bukan ujian seleksi penerimaan, namun hanya tes untuk penempatan kelas. Pembagian kelompok kelas menjadi dua yaitu kelompok Al-Quran bagi calon santri yang sudah mahir baca tulis Arab dan kelopok Iqro’ bagi calon santri yang masih belum lancar.
6. Mengikuti kegiatan pondok
Selesai pendaftaran, calon santri langsung masuk ruang asrama, tidur dan esok paginya langsung mengikuti kegiatan belajar di kelas. Jadwal kegiatan pondok sangat padat, disiplin dan juga dibutuhkan kesiapan fisik calon santri. Saya melihat beberapa calon santri masih ada yang belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pondok, masih ada yang takut-takut dan bahkan menangis tidak mau ditinggalkan oleh orang tuanya. Saya sendiri menginap 2 malam di pondok untuk memastikan keadaan dan kesiapan anak saya. Beberapa wali santri ada yang sampai seminggu menunggui anaknya karena tidak mau/tidak tega meninggalkan anaknya.
Di tempat penginapan walisantri ini kami semua merasakan kebahagiaan dan keharuan yang sama karena akan meninggalkan anak lulusan SD tinggal jauh dari orangtua. Di tempat ini kami dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan, dan juga makanan. Keakraban antar calon walisantri sangat terasa seperti keakraban saudara di antara kami.
Demikian pengalaman kami, semoga dapat memberikan gambaran bagi bapak / ibu calon wali santri.

MARI BELAJAR GAYA HIDUP BANGSA CHINA


Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi, Alumni Gontor, Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang.
(Dikopi dari milis tanpa ijin, karena tidak tahu ijinnya kemana).

Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRC (Tiongkok) kepada kamu semua. Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri Cina. Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari China , yaitu: 1. Segi Historis (Sejarah) China adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, China sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani , Persia , India , dll. Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah. 2. Segi Geografis China persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan WITA. Luas Negara China ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah. 3. Segi Populasi Negara China mempunyai jumlah populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 milyar jiwa. Ini jumlah penduduk yang ada di China daratan, belum lagi bangsa China berada di luar China (Overseas China). Di Negara mana-mana pasti ada orang China , termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang nyelempit-nyelempit itu. Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini yang tidak ada orang Chinanya. Jumlah populasi orang China yang berada di luar RRC itu kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau ditotal secara keseluruhan, maka jumlah populasi warga China mencapai hampir 2 milyar jiwa. 4. Segi Ekonomi China ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras. Dalam satu hari, orang China mampu bekerja selama 11 jam, padahal kita saja yang berkerja 8 jam sehari sudah merasa berat. Perhatikan orang China yang buka toko. Pada pukul 06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, kemudian (more…)

MAKAN MALAM DENGAN SEBUAH KOMUNITAS MUSLIM DI RHODE ISLAND


Oleh: Imam Bachtiar

Rhode Island adalah sebuah negara bagian terkecil di Amerika Serikat. Populasi muslim sekitar 6000 orang. Hari ini, Sabtu 16 Juni 2012, saya bersama teman-teman muslim dari Afrika (Senegal dan Gambia) menghadiri undangan makan malam oleh komunitas muslim di Masjid al Hoda. Kami sedang training di University of Rhode Island (URI), kampus Naraganset Bay, atau lebih sering disebut bay campuss. Kami tinggal di asrama mahasiswa Internasional Rainbow Diversity House (RDH), kampus Kingston, yang berjarak 15 menit jalan kaki dari Masjd al Hoda.

Kingston adalah sebuah county di pinggiran selatan Rhodee Island yang berbatasan dengan negara bagian Connecticut. Dari Kingston ke ibukota Rhode Island, Providence, sekitar 30 menit dengan mobil pribadi atau 55 menit dengan bis umum.

Di Rhode Island, komunitas muslim mempunyai 8 buah masjid. Tiga masjid di antaranya merupakan masjid yang relatif besar yang menampung sekitar 500 jamaah shalat Jumat. Lima masjid lainnya lebih merupakan pusat kegiatan keagamaan masyarakat atau community center.

(more…)

GONTOR DARI DALAM (17) Masa Transisi yang berat: KH. ABDULLAH SYUKRI 3


Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dari sisi objektif, tentu saya tidak padan untuk menceritakan tentang sosok putra Kyai Imam Zarkasyi yang satu ini. Tentang Kyai Syukri sudah terlalu banyak media yang melangsirnya. Tapi dari sisi subyektivitas saya, biarlah tak apa beberapa sisi akan saya sampaikan.

Kyai Imam Zarkasyi pernah mengatakan bahwa ciri-ciri besar kecilnya suatu lembaga pendidikan bisa dilihat dari besar kecilnya perpustakaannya. Saya sendiri karena melihat zaman sudah berubah berpendapat bahwa untuk saat ini ciri-ciri besar kecilnya lembaga pendidikan adalah pada seberapa besar suply listrik yang dipakainya. Bukankah buku-buku sudah di digitalized dan itensitas para warga selalu membutuhkan dukungan listrik? Mungkin. (more…)

GONTOR DARI DALAM (16): KH. Hasan Abdullah Sahal 2


Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Bismillahirramanirrahim
Assalamu’alaikum wr. wb.

Masuk dunia khayal, itulah yang selalu saya alami ketika KH.Imam Zarkasyi menyebut nama kakak beliau yang paling dimuliakannya itu. Ucapannya sederhana “Kyai Sahal”.

Konon ketika KH. Imam Zarkasyi ditunjuk menjadi Pimpinan di Darussa’adiyah Padang Panjang, menggantikan posisi KH. Mamud Yunus, ya oleh guru beliau itu juga, baru setahun menjalankan amanah datanglah surat pendek dari kakak beliau itu: ” Aku sudah kehabisan modal, pulang kamu dan teruskan perjuangan ini ” lalu dengan patuh beliau minta diri dan pulang ke Gontor melaksanakan perintah kakaknya sampai beliau wafat.

Saya tidak mempunyai referensi apapun untuk mendekati sosok KH. Ahmad Sahal itu kecuali beberapa photo hitam putih dan potongan kisah melalui mulut KH. Imam Zarkasyi sendiri. Maka mencari gambaran melalui awan dan mega2 itulah pilihannya pelengkapnya.

Suatu kali, KH imam Zarkasyi menceritakan bahwa KH. Ahmad Sahal itu dikenal sakti mandraguna di Ponorogo, tak ada satu orang Warok-pun yang berani petentang petenteng dihadapan beliau. Orang kampung Gontor juga menkonfirmasi bahwa beliau bisa berlari di atas angin, bisa juga tidak terlihat mata, raib suatu waktu. Bagi saya Ilmu Allah itu luas dan berguna untuk membekali para pejuang-Nya sesuai dengan situasi dan kondisi dimana ia berjuang. (more…)

GONTOR DARI DALAM (18): WC-nya DUBES: KH Abdullah Mahmud 3)


Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Gedung Saudi yang megah di Kampus Gontor 1, tentu bisa ditebak adalah sumbangan dari Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Itu betul sekalipun tidak seluruhnya dari sana.
Demikianlah kita dididik dalam menghormati dan berterima kasih pada orang yang berkenan membantu kita.

” Man lam yasykurinnaasa, lam yasykurillaha”, demikian biasanya KH Imam Zarkasyi menyitir Hadits Rasulullah, berkenaan dengan hal tersebut

Tahun 1982, ada lagi kunjungan dari duta besar Kerajaan Saudi Arabia, Dubesnya sat itu bernama Syeikh Bakr Khumaisy. Penghormatan diberikan sesempurna mungkin, mulai dari parade baris berbaris, marching band sampai sambutan pidato dan memberikan kesempatan beliau menyampaikan pidato wejangan kepada santri. (more…)

GONTOR DARI DALAM (12): Mengapa Sekolah Menengah?


Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Bismillahirrahmanirrahim
Jika ibu-bapak Walsantor pernah ke Gontor1, apakah diperhatikan tulisan yang tertera di dalam Balai Pertemuan, Pas berada di bagian depan dan atas stage? Mungkin saja tulisan itu tidak diinspirasi oleh topik yang ingin kita bicarakan disini tapi sesuai dengan pengalaman hidup saya di Gontor1. Hubungan keduanya sangat kuat.

Kyai Imam Zarkasyi selalu menyiapkan pidato sambutannya sehari sebelum tamu-tamu pondok (rombongan) disambut di BPPM. Beberapa hari sebelumnya kami dari Bagian Penerimaan Tamu menyampaikan daftar tamu yang akan datang. Setelah beliau menetapkan waktu penerimaan (biasanya tidak ada yang ditolak. Sering kali kami melihat Pak Zar memaksakan diri, sekalipun nampak agar kurang sehat) maka kamipun menyiapkan segala keperluan mulai dari sound system, makan minum dan kenang-kenangan. (more…)

GONTOR DARI DALAM (13): Sepeda Ontel, Pak Sirman dan Kalender


Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Bismillahirahmanirrahim
Kereta angin, demikian Kyai Zarkasyi lebih sering menyebut sepeda, mungkin konsekwensi logis beliau tinggal lama di Padang Panjang. Kadang-kadang beliau juga bilang sepeda onthel dengan lidah jawa yang mantap.

Jangan coba-coba meremehkan sepeda onthel, apalgi merk “fongers” yang buatan Belanda itu. Sepeda onthel bagi Kyai Imam Zarkasyi adalah sejarah Gontor itu sendiri. Sebagai shahibul hikayah, saya sendiri mendengar beliau menceritakan bagaimana heroiknya si Fongers itu membela nasib Gontor.
Seperti kita ketahui tahun 60-an Indonesia dilanda paceklik dan terkecuali Gontorpun terancam gulung tikar. Disinilah kesungguhan dan keikhlasan mendirikan lembaga pendidikan diuji. Masing-masing keluarga pondok dan guru memutar orak bagaimana mempertahan cita-cita ini. (more…)

GONTOR DARI DALAM (15): Lek Perlu Sak Nyawane Pisan 1


Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ungkapan Njowo pada judul tulisan di atas, yang berarti “Bila Perlu dengan menyerahkan nyawa sekalipun siap”, lebih sering digunakan oleh Kyai Imam Zarkasyi ketimbang, misalnya diterjemahkan kedalam Bahasa Arab atau Bahasa Inggris. Secara psikologis tentu bahasa ibu seseorang akan lebih lekat dengan jiwanya ketimbang bahasa lainnya. Maka kalau nuansanya sudah begini fahamlah kita pak Kyai sedang berbicara dengan segala jiwa dan raganya. Jangan macam-macam.

Ketika seseorang mencari perbedaan kontras antara Pondok Modern Gontor dengan Pondok Pesantren lain maka dengan segera dan mayakinkan bisa dijawab : “kalau Gontor yang dikenal pondoknya, sedangkan orang-orangnya tidak.” Coba check seberapa banyakkah yang tahu nama pendiri dan pimpinan Pondok Modern Gontor dibandingkan dengan pondoknya sendiri? Apalagi siapa nama anak saudara atau menantu dan lan sebagainya. Nyaris tak pernah terdengar. Yang jelas keadaan ini disadari sepenuh atau dengan kata lainnya memang disengaja untuk menghormati fakta bahwa Gontor menjadi demikian bukan karena seseorang tapi karena banyak pihak. (more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.