Pengalaman Bule Muallaf di Indonesia: Untuk Kita Renungkan


Tulisan Gene Netto

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kemarin saya diminta bertemu dengan orang Eropa yang masuk Islam dan menetap di sini bersama isterinya (orang Indonesia) selama beberapa tahun. Pada awalnya, dia mulai belajar tentang Islam karena berniat menikah, tapi setelah memahami dasar2 Islam, dia menjadi serius dan rajin shalat. Pada waktu adzan, dia langsung ke masjid karena tidak mau ada shalat yang ditinggalkan atau telat. Sayangnya, setelah menetap di tengah komunitas Muslim selama beberapa tahun, kondisi dia berubah sekali. Dia berhenti shalat, menjadi depresi, dan bahkan siap bunuh diri karena sudah tidak tahan lagi semua stres di dalam kehidupannya. Dari pengalamannya dengan saudara isterinya, tetangga, dan teman bisnis, dia merasa bahwa apa yang “diajarkan oleh Islam” dan apa yang “dilakukan oleh orang Muslim” sangat berbeda.

Pertanyaan dia yang paling utama: “Kalau Islam memang benar, kenapa umat Islam seperti ini?”

Sekarang, kalau ada yang mengatakan “insya Allah” kepadanya, dia langsung merasa marah. Bagi dia, ketika orang Muslim di Indonesia mengatakan “insya Allah” maka artinya adalah: “Saya sedang membohongi anda, dan saya tidak akan melakukan apa yang saya janjikan”. Mendengar komentar itu, saya berusaha menjelaskan budaya Indonesia, di mana banyak orang tidak mau menolak suatu hal jadi mereka mengatakan “insya Allah” tanpa niat melakukan hal itu. Dia merasa sulit untuk menerima keadaan itu karena dianggap sama dengan kebohongan dan kemunafikan.

Kebanyakan orang yang ketemu dia seolah-olah bermuka dua, katanya. Dia bertanya, apa Islam mengajarkan untuk bermuka dua? Kalau tidak, kenapa begitu umum? Dia ingin berbisnis di sini, dan dalam bisnis semua orang Muslim juga begitu. Berbohong, munafik dan bermuka dua. Dia menunggu berbulan2 untuk membuat kontrak yang disetujui, yang dikatakan “insya Allah siap berjalan”. Ternyata tidak. Janjinya seorang Muslim tidak bisa dipercayai. Dia datang ke sini sebagai orang kaya, tapi dalam waktu singkat, seluruh harta dia sudah dihabiskan oleh saudara dan teman dari isterinya, yang ajak dia berbisnis, pinjam harta dia untuk “investasi”, lalu mengatakan “bankrut” dan tidak bisa bayar kembali. Karena merasakan hal2 seperti itu terus, akhirnya dia merasa putus asa. Buat apa beragama Islam terus kalau kualitas dari orang Muslim seperti ini? Menyesal bergabung dengan mereka.

Dia mencari penjelasan yang logis tentang hal2 yang berkaitan dengan Islam, tapi tidak dapat. Semua orang mengatakan, “karena disuruh orang tua” atau “karena ustadz bilang begitu”, tanpa bisa menjelaskan kenapa. Contohnya, dia bertanya kenapa shalat Jumat 2 rakaat dan bukan 4 rakaat? Apa alasan logisnya? Semua orang hanya mengatakan, “Karena disuruh begitu”. Dia bertanya kenapa tidak boleh bunuh diri? Apa alasan logisnya? Semua orang Muslim hanya menjawab, “Tidak boleh” tanpa ada alasan. Dia bilang, “Katanya Allah Maha Kuasa! Kalau iya, kenapa Allah tidak bisa halangi saya dari bunuh diri? Kenapa Allah tidak bisa menghentikan semua kejahatan lain yang dilakukan oleh manusia? Kenapa Allah izinkan Setan mengganggu kita?” Dia mencari penjelasan yang logis, tapi semua orang Muslim yang bertemu dengan dia tidak bisa jelaskan. Dia tambah bingung dan depresi.

Karena tidak lancar dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, menjadi sulit bagi dia untuk belajar di sini. Dia juga tidak aktif di internet, jadi tidak biasa cari info online. Dan setelah melihat umat Islam dan perilakunya secara umum, dia hanya merasa makin depresi, makin tidak paham Islam, dan tidak mau hidup lagi, jadi shalat juga tidak penting baginya.

Setelah saya dengarkan dia selama dua jam, saya mulai memberikan penjelasan. Di saat saya mulai menjawab semua pertanyaan dia, dan jawaban saya sederhana dan logis, alhamdulillah dia mulai berubah dengan cepat. Saat dzuhur, saya sengaja menunda shalat agar bisa diskusi terus. Melihat saya sering cek jam tangan, tiba-tiba dia mengatakan, “Ayo, kita harus shalat dzuhur!” (Malah dia yang ajak saya! Hehe). Saya suruh dia duduk lagi, dan menjelaskan dulu KENAPA dia mau shalat? Diskusi kita ditambahkan lagi setengah jam, sampai dia ajak saya shalat lagi. Setelah selesai dzuhur, dia ajak saya menunggu di musholla agar bisa lakukan ashar tepat waktu (daripada kembali ke kafe). Hehehe. Alhamdulillah, dalam 3 jam dia sudah berubah. Setelah ashar, kami kembali ke kafe, dan diskusi diteruskan sampai maghrib, dan sesudahnya ditambah lagi.

Yang menjadi kesulitan utama bagi dia adalah betapa sedikitnya orang Muslim di sini yang bisa menjelaskan Islam secara logis, dan betapa sedikitnya ustadz yang bisa menjelaskan Islam dalam Bahasa Inggris. Ustadz yang berilmu tinggi banyak sekali di sini, tapi ilmu mereka tidak bisa dibawa keluar dari Indonesia karena kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Dia ingin memahami Islam lewat pertanyaan yang berdasarkan logika, dan dibutuhkan penjelasan yang luas dan lengkap. Dia merasa yakin pada Islam JUSTRU karena berpikir dan menemukan ajaran yang logis di dalam Islam. Sayangnya, ada orang Muslim yang menjadi emosi, dan menghinakan dia karena tidak mau “asal nurut saja, tanpa perlu berpikir”. Hasilnya, dia menjadi malas belajar.

Berkali-kali saya harus menegaskan, kalau mau merasa yakin pada Islam, maka harus cari dasar-dasar Islam dari Al Qur’an, hadiths dan buku (dan harus ada guru yang bisa menjelaskannya). Kalau dia menilai Islam dari perilaku orang Muslim, maka dijamin dia akan kecewa. Dalam kata lain, “Kalau mau mengenal Islam, jangan melihat orang Muslim”. Sekarang, alhamdulillah, si bule muallaf itu sudah kembali melakukan shalat 5 waktu.

Sudah berkali-kali saya bertemu dengan orang bule yang muallaf atau mau masuk Islam, dan diskusinya selalu mirip. Mereka selalu bertanya, “Kalau Islam memang benar, kenapa umat Islam seperti ini?”

Alhamdulillah satu orang berhasil diselamatkan (untuk saat ini). Insya Allah tidak murtad, tidak bunuh diri, sudah kembali shalat, dan insya Allah bisa dapat ketenangan setelah pindah negara dan tidak lagi tinggal di tengah umat Islam yang mengganggu hati dia. Saya ingin sekali mengatakan kepada muallaf asing seperti dia, “Kalau mau merasakan contoh nyata dari Rasulullah SAW, pindah ke Indonesia dan tinggal di tengah umatnya”. Tapi sayangnya, banyak orang bule yang tinggal di tengah umat Islam malah merasakan yang sebaliknya: Umat Islam tidak membuat mereka tertarik pada Islam. Semoga bermanfaat sebagai renungan.

Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: