March 27, 2012
Oleh: Ustadz Hasanain Juaini
Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Pesantren Haramain, Lombok Barat
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Jika menggunakan barometer konvensional, maka menjadi guru di Gontor itu seperti kehilangan alasan untuk senang apalagi bahagia. Namun jika dilihat faktanya, di Gontor itu anda tidak akan menemukan guru-guru menderita apalagi stress.
Suatu hari rombongan tamu dari Konsul Amerika di Surabaya datang dan menanyai saya, Apakah anda senang dan bahagia menjadi guru disini? Pertanyaan ini wajar karena mereka telah diberi tau oleh pemandu bahwa guru di Gontor tidak digaji. hanya ditanggung makan dan keperluan harian seperlunya seperti sabun, shampo dan odol. Sikat giginya dikasi dua kali dalam setahun.
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, karang, Lombok, Mataram, nusa tenggara barat, pendidikan |
2 Comments »
March 27, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Jika anda search dengan key-words: “Pendidikan karakter bangsa” maka anda akan mendapatkan hasil artikel sejenis sebanyak SEJUTA, LIMA RATUS, SEMBILAN PULUH RIBU artikel. Nyaris semuanya tidak implmentatif dan semakin melambungkan pembacanya kealam mimpi.
Bung Karno, dengan segala kebesaran jiwa dan semangatnya untuk memerdekakan bangsanya zahir dan bathin membisikan kalimat di telingan Raja Faisal bin Abdul Azis Raja paling legendaris Saudi Arabia, bahwa Indonesia akan menghijaukan Padang Arafah untuk menaungi hamba-hamba yang berdoa di tempat dan waktu paling mustajabah di muka bumi ini. Itulah tuas ungkit paling dahsyat produksi manusia-manusia Indonesia yang sampai hari kiamat akan menjadi bukti bahwa bangsa ini bisa berprestasi dengan karya yang tak seorang manusiapun pernah memikirkannya.
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, Mataram, pendidikan |
Leave a Comment »
March 21, 2012
Oleh: Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain, Lombok Barat)
Bismillahirrahmanirrahim
Siapa yang belum mengunjungi “Masjid Jin” dan “Masjid Syajarah” ? tanya saya di Hotel tempat tinggal kami ” Olayan Khalil” di bilangan Misfalah. Saat itu waktu sarapan pagi.
Ada celetuk di sana: ” Ya sudahlah, kalau memang tidak sempat, tak apa-apa. Itu bukan perkara wajib” Secara reflex suara saya menyela: ” Oke…oke. bahkan Ibdah Umroh yang kita lakukan ini juga sunnah yang pahalanya mungkin saja tidak akan sebesar pahal kita memberi makanan atau membayarkan sekolah anak-anak miskin dan terlantar dikampung kita”.
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, Mataram, nusa tenggara barat, pendidikan |
Leave a Comment »
March 12, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Pertandingan Final tenis di Wimbledon atau Rolland Ga-roes mungkin membuat Ibu-bapak terperangah atau kalau saya sendiri mengistilahkannya CEMBURU BERAT, khususnya dalam hal ketertiban penontonnya. Sebegitu banyaknya mereka, riuh rendahnya suasana, nemun sesaat setalah empire mengatakan “thangk you” maka tak satu suarapun terdengar berisik.
Maukah anda merasakan suasana seperti itu di Indonesia? Tempatnya ternyata bukan di Istana negara, di Gedung DPR & MPR atau diruang sidang tipikor sekalipun. Tapi dalam pertemuan-pertemuan Keluarga besar Gontor. Kalau ternyata pertemuan di Gontor berisik, bisa dipastikan itu orang baru atau tamu atau jangan-jangan suara anda sendiri dan pengunjung lainnya.
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, pendidikan |
Leave a Comment »
March 12, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Tahun 1981 di gontor baru ada mesin ketik, bahkan sebagian kelas belajarpun masih dari gedek sampai yang temboknya hanya setengah saja. Saat inipun saya tidak bisa menukar ingatan dengan kondisi baru gedung2 megah Komsol, Satelit, Madinah, Baitul Millah, rumah Pak Zar, gedung asia sampai dapur guru yang becek berlantai tanah. Berkali saya datang ke Gontor 1 dan melihat langsung gedung2 baru itu tapi memori saya tetap menampak bangunan2 lama dimana dulu kami begedab begedebuk memukul meja waktu muhadloroh (latihan pidato).
Kembali ke mesin ketik; Suatu siang Kyai Haji Imam Zarkasyi meninjau ruangan Sekretaris OPPM yang kala itu dipegang oleh seorang teman bernama Muhammad Hisyam Asikin asal Banyumas. Beliau ternampak diatas lemari ada sebuah mesin ketik yang tidak terpakai. usut punya usut ternyata mesin itu rusak dan onderdil mesin ketik buatan Brazil itu sudah tak ada lagi di tukang servis. Beliau dengan ringkas memerintahkan betulkan sampai bisa dipakai kembali. Ingat berapa kemajuan yang tertunda akibat nganggurnya mesin ketik itu.
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, nusa tenggara barat, pendidikan |
Leave a Comment »
March 12, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Ibu – bapak walsantror pernah melihat masjid PUSAKA di Gontor 1 itu? Oh jangan sampai tidak masuk dan shalat sunnah di sana. Masjid besar dan menara tinggi menjulang itu tidak ada apa-apanya dibanding masjid pusaka itu.
Sebuah acara perpotoan terakhir yang juga selalu diikuti dengan disiplin oleh Kyai H Imam Zarkasyi, posisi di depan Masjid Pusaka inilah yang paling diutamakan beliau. Nah sebelum kita diambil photo beliau memberikan penjelasan:
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, pendidikan |
Leave a Comment »
March 12, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Ibu – bapak pasti tahu nama Kyai Haji Imam Zarkasyi, tapi bisakah anda membayangkan sosoknya? Atau melihat langsung aksinya?
Di kamar tidur beliau selalu tergelar sajadah yang diatasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau. Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas HITAM bertuliskan tinda emas berbunyi: “Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan”.
Diluar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat2 pertukangan seperti martil, obeng atau tang. keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu2 kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki.
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, pendidikan |
Leave a Comment »
March 12, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Dengan keyakinan penuh saya menduga bahwa jika Pak Lukman Saifuddin, Nur Wahid atau Ahmadi ditanya: ” mana lebih khidmat sidang Komisi, Sidang Pleno dan sidang Paripurna yang di Gontor atau yang di DPR&MPR RI? Jawabnya pasti YANG DI GONTOR dong!
Bejibun alasannya: Parlemen di Gontor tak ada boongnya, tak ada gajinya, tak ada melesetnya namun manfaatnya untuk menjamin proses pembentukan manusia-manusia Indonesia dan atau dunia yang beriman, berilmu, beramal dan berihsan.
Kelebihan yang tak mungkin mampu ditiru oleh DPR & MPR RI adalah bahwa di Gontor Parlemen ini setelah menyelesaikan GBHPondok, program kerja, kegiatan-kegiatan dan indikator kinerja serta anggaran biaya RAPBPondok, maka mereka semua lalu menanda tangani fakta integritas untuk menjadi ANGGOTA KABINET yang lazim disebut Pengurus Organisasi Santri Pondok Modern alias OPPM. Sayangnya saya tidak pernah menduduki banyak lebih dari empat posisi berbeda di dalam OPPM itu yaitu; Bagian Tamu, Bagian Penerangan Bulan Ramadlan, Bagian Binatu dan Bagian Keamanan Rayon (tepatnya di Rayon Koma Sigor Lama-dimana salah seorang anak-buah saya adalah Yudi Latif yang sekarang sering banget menjadi Narsum di TV. Maklum dia hebat sejak dulu di Gontor)
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, pendidikan |
Leave a Comment »
March 12, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Hasil ujian masuk di Gontor mengemplang saya benar-benar sampai terkapar. Saya memang LULUS tapi ??? Tahukah ibu-bapak Walsantro abjad kelas terakhir tahun 1979 di Gontor adalah kelas “SATU HA”.
Disitulah bahtera saya tertambat. Hem…sedihnya setengah karena setiap kami jalan menuju kelas di halaman Gontor yang luas itu, seakan akan semua mata memandang kami dan (mungkin) dihatinya berbisik: “Itu mereka gerombolan anak-anak yang hampiiiiiiiiiiir tidak lulus”.
Bukan santri namanya kalau tidak pandai bela-belain dirinya. Selalu ada celah untuk tidak bersedih atau kalau bisa kita tertawa ngakak saja diatas kesedihan itu biar malu setannya. Mula mula modal berkelit diberikan oleh Pak Kyai. katanya begini: ” Mari kita sama-sama meminta maaf kepada capel-capel yang terpaksa tidak bisa diterima. Kita bukan tidak cinta cuma saja cinta tidak harus saling bersama. selamat jalan kawan semoga ditempat yang lain Allah memberi anda semua yang lebih baik”
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, pendidikan |
Leave a Comment »
March 12, 2012
Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)
Bismillahirrahmanirrahim
Walsantor yang anaknya sekolah di Gontor, jelas tak perlu khawatir hanya karena berawal dari pemaksaan. Secara psikologis anak tamatan SD dan SMP masih dalam barisan angkare (dalam pramuka) sehingga memang membutuhkan bantuan dalam memilih jalan. Gontor tahu hal itu dan sudah ada mekanisme untuk menggilasnya. Ibu-bapak ikhlaskan dan do’akan saja dari rumah.
Menyibukkan adalah mekanisme perdana yang biasanya dirumah tidak mampu dilakukan orang tua. 24 jam bukan perkara mudah untuk mengisinya padahal gerbang kehancuran manusia itu tiga perkara: KEKOSONGAN, MASA MUDA DAN BANYAK UANG. Anak-anak santri yang dirumahnya memiliki ketiga-tiganya adalah mereka yang berat mengalami masa-masa awal di Gontor. Hallo…hallo…hallo ibu bapak walsantor yang kaya-kaya! segeralah bersujud jika anda-anda mampu menutup gerbang kehancuran ini.
read more »
Posted in Gontor, Indonesia, Islam, Lombok, pendidikan |
Leave a Comment »